matacahaya!

The List, libraryMarch 26, 2008 9:16 am

Finally, setelah hampir setahun,pencarian buku ini berakhir dengan edisi lengkap Tetralogi Buru nya Pramoedya Ananta Toer…YAY!!!


Bumi Manusia


Anak Semua Bangsa


Jejak Langkah


Rumah Kaca

Pertama baca ini gegara dipinjemin sama Wesly dan langsung keracunan, memburu buku2 lainnya memakan waktu hampir setahun bok!

The List, libraryFebruary 12, 2008 8:22 am

Yang saya tampilkan disini adalah gambar sampul buku Kafka edisi Internasional, bukan sampul buku edisi Indonesia yang menurut saya desain nya engga banget, kalau mau liat coba ke situs penerbitnya.

Well, anyway saya pengen bahas bukunya aja,bukan gambar sampulnya. Buku ini genius banget!. Depressing sih, tapi genius..buku ini berhasil menghadirkan perasaan tertekan seakan-akan kita bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Kafka Tamura, tokoh sentral dibuku ini.

Kafka on The Shore berkisah dengan plot maju-mundur antara Kafka Tamura dan Satoru Nakata. Di awal cerita kita diperkenalkan kepada seorang remaja umur 15 tahun Kafka Tamura, yang melarikan diri dari rumah.Sejak kecil Ayah nya yang seorang pematung, sudah meramalkan bahwa Kafka akan membunuh Ayahnya dan tidur dengan Ibu dan Kakaknya. Hal ini tentu saja menghantui Kafka karena sejak kecil Ibu dan kakak perempuannya sudah meninggalkan mereka. Dalam pelariannya Kafka mendapat pekerjaan untuk menjaga sebuah perpustakaan di Takamatsu. Disana dia bertemu dengan sosok Nona Saeki dan seorang cewek androgini bernama Oshima. And here the Oedipus story begins.

Lalu cerita tentang Satoru Nakata seseorang yang bisa berbicara dengan kucing dan menderita cacat sejak peristiwa aneh sewaktu dia masih kecil dimasa perang. Ia bekerja sebagai petugas profesional untuk mencari kucing-kucing yang hilang. Dalam salah satu tugasnya Nakata terlibat pembunuhan brutal dan pembunuhan ini in some mysterious way terhubung dengan Kafka.

Kalau membaca buku ini, akan terasa nuasa surreal dan magical realisme seperti kata wiki tentang ini

Kafka on the Shore demonstrates Murakami’s typical blend of popular culture, quotidian detail, magical realism, suspense, humor, an involved and at times confusing plot, and potent sexuality.

Dan lagi-lagi sayangnya sampul bukunya engga mencerminkan hal ini :(

—–

Akhirnya, dua bulan ini disibukan kembali dengan beberapa buku yang harus dibaca, setelah Harry Potter 7, Kafka on The Shore dan sekarang saya akan mulai menghabiskan buku The Unbearable Lightness of Being-nya Milan Kundera.

Menyenangkan sekaliiii….

The List, libraryOctober 31, 2007 2:17 am

Sebagai lulusan sekolah Ilmu Sosial dan Politik, membaca novel ini lumayan membuat saya teringat diskusi dunia politik jaman kuliah dulu…, Sammy’s Hill (Dunia Sammy) cukup menghibur sekaligus menghadirkan humor-humor cerdas yang engga cheesy.

Samantha Joyce (Sammy) seorang pengidap hypochondria yang ironisnya bekerja sebagai staf penasehat kebijakan domestik dan analis kesehatan senator’s domestic policy adviser and health care analyst (what a job!! *ngiri*) Senator Robert Gary (RG). Ia juga berpacaran dengan Aaron Driver si musuh dalam selimut, seorang penulis pidato senator senior/calon presiden John Bramen. Tingkah laku Sammy dan isi hatinya sewaktu berpacaran dengan Aaron sedikit banyak mengingatkan saya akan diri saya sendiri..huhuhuhu…seperti selalu penasaran kalo pacar engga balas sms atau telepon balik, apalagi kalau udah berkali-kali..langsung aja panik! buehehehehe :D

Walau dari sisi plot masih sama kayak chiklit lain, percintaan di tempat kerja!, yang bikin beda ya latar belakang nya itu tadi, yang mengambil suasana dunia politik di DC. Kristin Gore, sebagai anak mantan wakil presiden amrik Al Gore jelas aja punya pandangan dan kedekatan tertentu dengan Capitol Hill maupun White House…seru juga sekali-sekali membaca Washington D.C dan bukan NewYork melulu sebagai sebuah latar cerita. Walau di pertengahan menjadi agak membosankan dan banyak sekali kalimat-kalimat pemborosan yang terkesan memanjang-manjangkan cerita..hehehehe

Oiya, kabarnya Sammy’s Hill akan dibuat film nya juga oleh Columbia Pictures..

The List, library, Burnt ToastMarch 9, 2007 9:58 am

To have a life as sweet as a Honey Pie

Dalam cerpen Honey Pie dari buku After the Quake Haruki Murakami menceritakan tentang dua ekor Beruang Madu, Masakichi The No 1 Honey Bear dan Tonkichi,seekor beruang kuat yang cemburu kepada nya karena Masakichi bisa berbicara dan menghitung uang…sama seperti manusia, Masakichi juga suka mendengarkan musik dan memiliki sebuah boombox yang ia pungut dari jalanan di gunung.

“He listens to music?” Sala asked. “Does he have a CD player or something?”

“He found a boom box lying on the ground one day. He picked it up and brought it home.”

“How come all this stuff just happens to be lying around in the mountains?” Sala asked with a note of suspicion.

“Well, it’s a very, very steep mountain, and the hikers get all faint and dizzy, and they throw away tons of stuff they don’t need. Right there by the road, like, ‘Oh, man, this pack is so heavy, I feel like I’m gonna die! I don’t need this pail anymore. I don’t need this boom box anymore.’ ”

“I know just how they feel,” Sayoko said. “Sometimes you want to throw everything away.”

“Not me,” Sala said.

Seorang penulis muda bernama Junpei, ia sengaja mengarang cerita tentang dua ekor beruang madu kepada Sala, gadis kecil anak dari Sayoko, orang yang ia cintai sejak masih kuliah..namun tak sempat mereka bersatu karena Sayoko akhirnya menikah dengan Takatsuki sahabat Junpei.

“Absolutely. Masakichi lived with people when he was just a cub, and they taught him how to talk and how to count money. Masakichi was a very special bear. And so the other bears, who weren’t so special, tended to shun him.”

“Shun him?”

“Yeah, they’d go, like, ‘Hey, what’s with this guy, acting so special?’ and keep away from him. Especially Tonkichi, the tough guy. He really hated Masakichi.”

“Poor Masakichi!”

“Yeah, really. Meanwhile, the people would say, ‘O.K., he knows how to count, and he can talk and all, but when you get right down to it he’s just a bear.’ So Masakichi didn’t really belong to either world, the bear world or the people world.”

Murakami memang senang membuat kisah-kisah hubungan cinta yang aneh dan ganjil tapi juga mengharukan, seperti kisah seorang manusia yang jatuh cinta kepada Ice Man (ya..ya..manusia salju beneran, bukan perumpamaan) cerpen berjudul “The Ice Man” ini terdapat dalam buku nya yang berjudul Blind Willow, Sleeping Woman juga kisah tentang Junpei dan Beruang Madu nya ini, manis semanis madu…

cerpen dapat dibaca lebih lanjut di sini

sekarang bagaimana kalau kita membuat seloyang Pie Madu hangat untuk “our own honey pie”..hyuukk!

HONEY PIE

INGREDIENTS

* 3 eggs
* 2 cups solid pack pumpkin puree
* 3/4 cup honey
* 1/2 cup milk
* 1/4 cup heavy whipping cream
* 1 1/2 teaspoons ground cinnamon
* 1/2 teaspoon salt
* 1/4 teaspoon ground ginger
* 1/4 teaspoon ground nutmeg
* 1 recipe pastry for a 9 inch single crust pie

DIRECTIONS

1. Beat eggs slightly in a large bowl. Blend in pumpkin, milk, cream, honey, spices, salt. Pour filling into pie shell. Cover edges of shell with strips of foil.
2. Bake at 400 degrees F (205 degrees C) for 35 minutes. Remove foil, and continue baking for 15 more minutes. An inserted knife should come out clean when done. Cool, and serve.

resep dari allrecipes
foto dari gourmet.gr

The List, libraryAugust 10, 2006 1:45 am

Salah satu hasil hunting buku Selasa kemarin bersama lea adalah buku Vernon God Little. Buku debutan setebal 437 halaman karya DBC. Pierre yang memenangkan Man Booker Prize di tahun 2003.

Kisahnya tentang seorang anak berumur 15 tahun yang (bukan homo) bernama Vernon Gregory Little, tinggal disebuah lingkungan kumuh Trailer Park di daerah sub urban Martirio. Tiba-tiba saja ia menjadi tesangka pembunuhan dan menghadapi tuntutan hukuman mati. Semuanya gara-gara sahabatnya (yang diduga homo) Jesus Navvaro yang bunuh diri setelah menembaki teman-teman sekelasnya yang suka mengejeknya. A HA! this is about the geek VS the bullying kids.

plot ceritanya memang mengagumkan dan bikin merinding. Saya bahkan membayangkan sebuah film didalam otak saya ketika membacanya. Benar-benar deskriptif. kata-katanya lugas dan to the point. tapi yg bikin “geli” adalah beberapa terjemahan nya. (sayang saya tidak membaca versi Inggrisnya). Kata-kata seperti “Coy” mungkin diterjemahkan dari “Dude”, lalu kata-kata “Orang Besar” mungkin ditercemahkan dari “Big Man” dan kata ” Keong!” (berupa sworn/umpatan) yang entah di terjemahkan dari kata apa?. Well ok!. di dalam novel ini memang banyak kata-kata makian kasar serupa fuck! atau shit! juga kalimat-kalimat sarkastik khas anak-anak Amerika..dan yeah, kata-kata makian itu jadi terbaca lucu dan menggelikan setelah di terjemahkan menjadi Anjing! atau Tai!..huehauehaueha…(kayak nya memang kudu baca edisi asli nya neh).

bagi yang pernah membaca novel-novel Djenar, DBC Pierre seperti versi laki-laki dari Djenar. mungkin karena mereka sama-sama suka menggunakan satu kalimat lugas dan tidak berpanjang-panjang…over all terlepas dari penerjemahannya yang agak bikin geli sendiri (apa seeeh..hihihi) novel ini bagus kok. Seperti halnya Les Miserables dan Fight Club yang diterjemahkan dengan kurang maksimal, yang menurut saya membuat keindangan bahasa novel ini menjadi turun satu peringkat. Ya..ya..ya..hanya karena saya malas baca edisi aslinya….cukuplah dengan menertawai beberapa kalimat janggal coy!! hueaheuah..

eh btw seharusnya “dude” diterjemahkan jadi apa ya??