(500) days of summer

Tom: What happens when you fall in love?
Summer: You believe in that?
Tom: It’s love, it’s not Santa Claus
love the narration, love the dialogues, love it cinematography and in love with joseph.

Tom: What happens when you fall in love?
Summer: You believe in that?
Tom: It’s love, it’s not Santa Claus
love the narration, love the dialogues, love it cinematography and in love with joseph.

Film ini Wong Kar-Wai banget! itu satu hal yang gue dapet pas abis nonton, but still my fav was Days of Being Wild…hehehehe. DVD nya sih udah lama banget gue beli, sekitar 3-4 bulan lalu, tapi terus gue lupa untuk nonton film ini, karna biasanya gue selalu nonton DVD sendirian, mengingat gak ada yang mau ikutan nonton film-film pilihan gue..hahaha my obsession with obsessed movies, dvd nya cuma numpuk aja di meja selama berbulan-bulan, abis susah cari waktu untuk sendirian, digodain mulu sih…wakekekek….baru beberapa malam lalu, ketika gue bosan banget malam itu gak bisa tidur dan sambil nunggu suami tercintah pulang kantor maka gue ngubek-ngubek dvd case mencari film-film apa aja yang belum gue tonton. Waktu itu ada dua pilihan. Antara My Blueberry Night (MBN) dan Penelope (film comeback nya Christina Ricci) akhirnya karna kesetiaan gue sama mas Jude gue pun menjatuhkan pilihan untuk nonton MBN duluan.
And like Blueberry, this movie sweet, sour, bitter but also moist. Jeremy (Jude Law) seorang pemilik Café di New York selalu ketitipan banyak kunci dari para pelanggannya. Tiap kunci memiliki cerita sendiri, termasuk salah satunya milik Lizzie (Norah Jones) yang menitipkan kunci apartemennya kepada Jeremy untuk diberikan kepada kekasihnya yang berselingkuh. Nyatanya Lizzie dengan sabar tiap hari datang ke Café nya Jeremy untuk menanyakan apakah sang mantan sudah mengambil kuncinya atau belum. Perasaan terbuang dan kesepian yang dialami Lizzie juga dialami Jeremy yang sebelumnya juga mengambil opsi “lost keys”.
Ketika Lizzie akhirnya memutuskan untuk pergi ke Memphis untuk melupakan kekasihnya itu ia mengambil dua pekerjaan sekaligus, siang di sebuah Diner dan malam disebuah Bar. Lizzie bertemu dengan Arnie (David Strathairn) seorang polisi kesepian yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa mantan istrinya yang cantik Sue Lynn (Rachel Weizs) sudah meninggalkannya. Juga ada kisah tentang Leslie (Natalie Portman) seorang penjudi yang menjadikan poker untuk menumpahkan rasa frustasi kepada ayahnya.
Kisah-kisah kesepian ini terangkum dalam film yang berjalan dengan plot lambat dengan kontras warna yang dibeberapa bagian hampir redup (and I love it, menurut gue disitu bagusnya film Kar-Wai, warna-warna yang dia pilih tuh terkadang setipe banget, dia banget gitu…semacam pattern warna nya Kar-Wai), beberapa frame nya bahkan cenderung kasar. Untuk orang yang engga suka film alur lambat, film ini mungkin akan sangat membosankan. Abis memang endingnya pun berjalan datar. Dimana akhirnya Lizzie kembali ke NY dan menemui Jeremy di Cafenya, berdua lalu mereka menikmati sepiring Blueberry Pie.
Finally, setelah hampir setahun,pencarian buku ini berakhir dengan edisi lengkap Tetralogi Buru nya Pramoedya Ananta Toer…YAY!!!

Bumi Manusia

Anak Semua Bangsa

Jejak Langkah

Rumah Kaca
Pertama baca ini gegara dipinjemin sama Wesly dan langsung keracunan, memburu buku2 lainnya memakan waktu hampir setahun bok!

Yang saya tampilkan disini adalah gambar sampul buku Kafka edisi Internasional, bukan sampul buku edisi Indonesia yang menurut saya desain nya engga banget, kalau mau liat coba ke situs penerbitnya.
Well, anyway saya pengen bahas bukunya aja,bukan gambar sampulnya. Buku ini genius banget!. Depressing sih, tapi genius..buku ini berhasil menghadirkan perasaan tertekan seakan-akan kita bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Kafka Tamura, tokoh sentral dibuku ini.
Kafka on The Shore berkisah dengan plot maju-mundur antara Kafka Tamura dan Satoru Nakata. Di awal cerita kita diperkenalkan kepada seorang remaja umur 15 tahun Kafka Tamura, yang melarikan diri dari rumah.Sejak kecil Ayah nya yang seorang pematung, sudah meramalkan bahwa Kafka akan membunuh Ayahnya dan tidur dengan Ibu dan Kakaknya. Hal ini tentu saja menghantui Kafka karena sejak kecil Ibu dan kakak perempuannya sudah meninggalkan mereka. Dalam pelariannya Kafka mendapat pekerjaan untuk menjaga sebuah perpustakaan di Takamatsu. Disana dia bertemu dengan sosok Nona Saeki dan seorang cewek androgini bernama Oshima. And here the Oedipus story begins.
Lalu cerita tentang Satoru Nakata seseorang yang bisa berbicara dengan kucing dan menderita cacat sejak peristiwa aneh sewaktu dia masih kecil dimasa perang. Ia bekerja sebagai petugas profesional untuk mencari kucing-kucing yang hilang. Dalam salah satu tugasnya Nakata terlibat pembunuhan brutal dan pembunuhan ini in some mysterious way terhubung dengan Kafka.
Kalau membaca buku ini, akan terasa nuasa surreal dan magical realisme seperti kata wiki tentang ini
Kafka on the Shore demonstrates Murakami’s typical blend of popular culture, quotidian detail, magical realism, suspense, humor, an involved and at times confusing plot, and potent sexuality.
Dan lagi-lagi sayangnya sampul bukunya engga mencerminkan hal ini
—–
Akhirnya, dua bulan ini disibukan kembali dengan beberapa buku yang harus dibaca, setelah Harry Potter 7, Kafka on The Shore dan sekarang saya akan mulai menghabiskan buku The Unbearable Lightness of Being-nya Milan Kundera.
Menyenangkan sekaliiii….

Sebagai lulusan sekolah Ilmu Sosial dan Politik, membaca novel ini lumayan membuat saya teringat diskusi dunia politik jaman kuliah dulu…, Sammy’s Hill (Dunia Sammy) cukup menghibur sekaligus menghadirkan humor-humor cerdas yang engga cheesy.
Samantha Joyce (Sammy) seorang pengidap hypochondria yang ironisnya bekerja sebagai staf penasehat kebijakan domestik dan analis kesehatan senator’s domestic policy adviser and health care analyst (what a job!! *ngiri*) Senator Robert Gary (RG). Ia juga berpacaran dengan Aaron Driver si musuh dalam selimut, seorang penulis pidato senator senior/calon presiden John Bramen. Tingkah laku Sammy dan isi hatinya sewaktu berpacaran dengan Aaron sedikit banyak mengingatkan saya akan diri saya sendiri..huhuhuhu…seperti selalu penasaran kalo pacar engga balas sms atau telepon balik, apalagi kalau udah berkali-kali..langsung aja panik! buehehehehe
Walau dari sisi plot masih sama kayak chiklit lain, percintaan di tempat kerja!, yang bikin beda ya latar belakang nya itu tadi, yang mengambil suasana dunia politik di DC. Kristin Gore, sebagai anak mantan wakil presiden amrik Al Gore jelas aja punya pandangan dan kedekatan tertentu dengan Capitol Hill maupun White House…seru juga sekali-sekali membaca Washington D.C dan bukan NewYork melulu sebagai sebuah latar cerita. Walau di pertengahan menjadi agak membosankan dan banyak sekali kalimat-kalimat pemborosan yang terkesan memanjang-manjangkan cerita..hehehehe
Oiya, kabarnya Sammy’s Hill akan dibuat film nya juga oleh Columbia Pictures..