
Pada suatu hari yang mendung, ketika gue naik bis seperti hari-hari biasa menuju ke kantor. Tidak berapa lama gue duduk manis menunggu bis yang masih ngetem, naiklah sesosok pengamen bis kota. Udah bisa ditebak si pengamen akan menyanyikan lagu-lagu andalan “band melayu” semacam d’massive, seventeen, ST12, Peterpan dll, yang kadang-kadang dalem ati gue ngomong ” i wouldn’t mind hitting you in the face” apalagi kalo suara pengamennya jeleeekkk banget pake ukulele yang nada nya itu-itu aja untuk semua lagu yang dia nyanyiin..errrrghhh kacau!
Tapi, sepertinya pagi ini tidak akan sama seperti pagi-pagi yang lain, ketika si pengamen memetik nada pertama dengan gitar dan harmonikanya saya langsung kaget bukan alang kepalang *halah*, selain karena lagunya bukan lagu “cinta mendayu-dayu ala kangen band dkk” melainkan lagu yang engga gue kenal sama sekali bertemakan sosial politik. Suaranya mirip banget sama suara Conor Oberst!! feel nya ngebawain lagu, jenis lagunya, suara nya yang serak-serak gimanaa gitu dan caranya bernyanyi yang lebih mirip orang “bercerita”, kayak story teller gituh. Walau orangnya lebih mirip “pak ogah” dari pada Conor Oberst..hihihihi
Setelah beberapa lama sering ketemu sama pengamen ini di bis langganan, kayaknya sih dia nyanyiin lagu ciptaannya sendiri, beberapa kali emang pernah dia sisipin lagu-lagu lama milik iwan fals, ebit g ade (ayah) atau slank personil lama. Lagu-lagunya kebanyakan mengangkat masalah-masalah sosial kayak “gadis alim yang jatuh cinta sama preman”, ” persahabatan kerbau dan kobra”, “sarjana muda yang susah cari kerja”, “balada pengamen jalanan” dll. kadang, dia berhenti di tengah lagu entah lupa lirik atau apa, trus dia improv dengan lirik asal-asalan atau na..na…na…ga jelas. Tapi teutuep aja, suara Conor Oberst nya yang bikin gue senyam senyum dalam hati bersyukur bukan si pengamen ukulele yang nyanyi di bis yang gue tumpangi.