Malam ini, terasa seperti malam-malam sebelum nya di bulan lain. Ketika saya mulai mengerti akan perubahan dan siklus keperempuanan saya. Pemahaman itu menjadikan saya menghargai tubuh saya. Membuat saya menghargai karakter saya. Juga menghargai what it takes untuk menjadi seorang SAYA..
Disuatu malam lain, ada kalanya saya menertawakan saat dimana saya menjadi mudah sekali menangis. Ya, tanyakan saja pada pacar saya, Didit. Dia tau sekali kelemahan saya yang satu itu. Yes indeed!, I love to cry. Pertengkaran kecil, omelan nyokap, film, cerita dalam buku, momen pernikahan teman, berita feature di tv, atau bahkan kasus pemukulan wasit karate Indonesia yang dilakukan oleh 4 polisi Malaysia. Semua itu bisa membuat saya menitikan air mata. Ya! Mungkin kamu akan menganggapnya aneh. Tapi tidak, air mata itu tidak bisa saya bendung, dan mereka akan dengan tiba-tiba menggenangi mata saya. Didit sampai pernah bilang sama saya “kamu emang bisa nya cuma nangis”..itu waktu kami bertengkar disaat-saat yang kurang beruntung.
Tapi disaat yang lain, saya tahu pasti bahwa saya lebih kuat dari siapapun menghadapi kritikan kejam dan back stabber dimanapun (biasanya sih di kantor)..dimana tembokpun bisa bicara dan punya telinga. Dimana satu kejadian bisa menjadi dua bahkan tiga. Dimana gossip dan fitnah bisa berseliweran tiada henti setiap harinya. Dan saya tahu pasti bahwa saya lebih immune menghadapi hal-hal ini yang tidak akan bisa membuat saya menangis. Saya kadang bisa lebih cool menghadapi situasi seperti ini.
Saya bahkan sempat berfikir bahwa jangan-jangan diri saya ibaratnya ruang coliseum besar. Dimana kepintaran, kekuatan, kelicikan, kecerdikan, kelemahan bahkan kebodohan bertempur menjadi satu. Dan disaat-saat tertentu hormon juga berperan penting dalam memutuskan siapa yang akan jadi pemenangnya. Walau saya tidak ingin membunuh satupun karaker saya. Agar tidak satupun dari mereka dapat membaca apa isi kepala saya, kecuali Matt Parkman tentu saja.
