Beku

March 15, 2006

Otak beku. Hati beku.

Setiap hari memandang hidup penuh kecewa dan kecemasan. Lelah rasanya. Saat seperti ini saya cuma menginginkan pelukan hangat yang penuh cinta, warm loving hug. Tapi sepertinya orang-orang terlalu sibuk dan tidak sempat lagi menebarkan cinta. Sekarang dimana-mana orang sibuk bermusuhan, berfikir negatif, bermain licik dan menyimpan dendam. Seulas senyum terasa amat kaku. Lagi-lagi kebekuan dimana-mana.

Sekarang tampaknya. Pilihan orang untuk mengatasi masalahnya adalah dengan mematikan semua akses kepada perasaan mendalam. Sebuah penemuan baru bagi saya bahwa perasaan saat ini bukanlah hal yang penting. Perasaan hanyalah sebuah pergantian peran. Secepat proyektor film mengganti reel kedua. Kesakitan yang sempurna. Seperti kematian pelan-pelan.

Tapi saya tidak ingin membahas tentang kematian. Hanyalah sebuah kebekuan. Dan salah satunya adalah kebekuan hati. Otak dan hati beku dimiliki orang-orang yang masih hidup dan masih bernafas. Hanya saja, saat ini bagi saya waktu berjalan merangkak detik-per-detik. Beku akibat dari manusia yang bergerak cepat sementara waktu saya bergerak makin melambat. Bagi saya waktu, seolah-olah juga akan membeku. Ketidakharmonisan ini. Ngeri memikirkan apa yang dapat diakibatkannya.

Untunglah saya masih sempat memikirkan ini. Sehingga kebekuan hati dan otak yang juga menyerang saya akhir-akhir ini tidak berlarut-larut. Dan senang rasanya mengetahui bahwa kebekuan hidup dapat dicairkan dengan…..jatuh cinta (lagi)..!!!!!