Cinta dan Waktu
Ini ada sedikit kutipan dari seorang anonymous di blognya jeng sinta. cerita ini ternyata dari cowok nya yg bernama Ari…hehehe..so sweet!!.
cerita ini buat kanda yang semalam menemaniku ngobrol di telepon sampe pulsa dia abis…xixixix
)..saya akan ingat pesan mu bahwa saya tidak boleh gampang di rayu (woot?? emang iyah ya? saya gampang di rayu???) dan saya harus mulai stay away dari para bad boys..huhehehe
) ..ehemm..tapi kan..kamu juga BAD boys kanda!!!
) semoga kamu dan kanya mendapatkan anak yang sehat lucu dan berbakti kepada kalian berdua…love you my bro!
cerita ini bisa jadi renungan kita semua..thx to sinta *hugs*
CINTA DAN WAKTU
Tersebutlah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda
abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya.
Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai
menghempas dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau
itu. Semua penghuni cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.
Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai
perahu. I a berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara
itu air makin naik membasahi kaki Cinta.
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
“Kekayaan ! Kekayaan ! Tolong aku !” teriak Cinta.
“Aduh ! Maaf, Cinta !” Kata Kekayaan,
“Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta,
nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu di
perahuku ini.”
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.
Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan
perahunya.
“Kegembiraan ! Tolong aku !”, teriak Cinta.
Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia
tak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Ia kian panik.
Tak lama lewatlah Kecantikan. “Kecantikan ! Bawalah aku bersamamu !”,
kata Cinta.
“Wah Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tidak bisa membawamu ikut.
Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini,” sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat
itu lewatlah Kesedihan.
“Oh, kesedihan, bawalah aku bersamamu,” kata Cinta.
“Maaf Cinta, Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja….” kata
Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya.
Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara,
“Cinta ! Mari cepat naik ke perahuku !”
Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya.
Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.
Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui
siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan kepada
seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya lelaki tua tadi.
“Oh, orang tua tadi ? Dia adalah WAKTU.” kata orang itu.
“Tapi, mengapa ia menyelamatkanku ? Aku tak mengenalnya. Bahkan
teman-teman yang mengenalkupun enggan menolongku…..” tanya Cinta heran.
“Sebab,” kata orang itu, “hanya WAKTUlah yang tahu berapa nilai
sesungguhnya dari CINTA itu